Saturday, January 20, 2007

Memandang semuanya secara sama rata

What is ur expectation for her?


Kadangkala mata ini terlampau cepat melihat, telinga ini terlalu cepat mendengar, melihat dan mendengar sesuatu sehingga terlampau menilai. Apabila terlampau menilai, akan membawa kepada terlampau berfikir. Berfikir yang melampau boleh membuat hati terlampau ...

Entah ya atau tidak, adakah kita semua pernah mengalami pengalaman yang sama. Melihat seseorang dan menilai. Apakah penilaian kita tepat dan persis sehingga boleh menghasilkan satu hipotesis yang boleh menjadi fakta dan pegangan?

Suatu ketika, kita terlampau berpegang kepada fakta yang telah kita rangka setelah membuat penilaian, kajian , inferens dan hipotesis. Tiba-tiba, pappp- fakta yang selama ini kita pegang telah boleh dipersoalkan kebenarannya.

Orang, manusia, human. Terlalu banyak ragam dan perangainya. Sejauh mana mata dan telinga ini bijak dalam menilai, sedarlah kita hanya menilai sesuatu yang kita nampak, sesuatu yang kita lihat, dan sesuatu yang diperlihatkan. Kesimpulannya, kita hanya menilai seseorang berlandaskan apa YANG DITONJOLKAN.

Apakah kita ini manusia terlalu tidak berahsia, sehingga semua dalam diri ini akan ditonjolkan? Semestinya tidak, terlalu banyak perkara yang disimpan untuk pengetahuan DIRI SENDIRI SAHAJA.

Tapi, ya, sedikit sebanyak, sampai mana sangat nak simpan kan, orang akan nampak jugak, dan orang yang selalu nampak apa yang kita cuba simpan adalah orang yang dekat-dekat dengan kitalah. FAMILI- antara yang tahu banyak tentang kita, rakan-rakan dekat dan blablabla..namun, yang betul-betul tahu tentang diri kita, tetap tak ramai.Kesimpulannya, kita tak boleh membuat kesimpulan tepat tentang seseorang, kerana kesimpulan yang kita buat adalah berdasarkan apa YANG DITONJOLKAN SAHAJA, banyak lagi bahagian dan dimensi lain tentang dirinya yang disimpan dan dirahsiakan.

Mengapa semua ini boleh dipersoalkan dan ingin ditulis di dalam blog? Ini soal expectation. Bila kita menilai, kita buat kesimpulan tentang seseorang, kita akan mula ada satu expectation tentang dirinya. Dan, suatu ketika, ketika expectation tak melepasi palang- HAH, hati ini kecewa. Kecewa, kecewa dengan rakan yang dianggap baik, kecewa dengan rakan sekerja yang dianggap tidak mengambil kesempatan, kecewa dengan bf yang dianggap bukan insan jalanan.

Jadi, bagaimana cara mengatasi semua ini. ? Adakah kita perlu berlari dari semuanya, sampai bila kita ingin berlari? Dunia ini dicipta bulat supaya bila kita berlari, kita tak dapat lari ke penghujung, kita tetap akan berlari dan akhirnya sampai ke tempat yang sama. Hal ini berlaku supaya kita membina kekuatan dalam menghadapi kitaran kehidupan yang kadangkala nampak memenatkan.

Kalau tak berlari nak buat apa? Nak suruh orang lain ubah perangai ? Ubah semula kepada expectation kita? That is sux. My heart suffer a lot bila i had some expectation to my ***, and suruh my *** ubah semua to my expectation.

Caranya, tetap kembali kepada, DIRI kita. Kita boleh sembuh andaikata kita mengubah expectation kita terhadap seseorang. Ingat, penilaian kita hanya setakat mana YANG SESEORANG ITU TONJOLKAN. Masih banyak yang kita tidak tahu.

Contoh. Bila kita lihat seseorang yang perangainya bagus, peribadinya hemah. Kita jangan terlalu memuja dan meletakkan –pedepap- oo dia ni memang bagus, macam ni macam ni.. YUP, dia memang bagus, tapi ingat “ YANG BAIK ITU DARI ALLAH”. Semua kebaikan pada dirinya, hanya dari Allah. Jadi, expectation kita di situ boleh berubah, - Ya saya tahu anda baik, tapi kebaikan itu tetap dari Allah. Di situ expectaion dan harapan kita berubah pada Allah, bukan pada dia.

Dan ingat, sebagai manusia, seseorang itu terlalu banyak kelemahannya. Di suatu sudut dia hebat, namun ada sudut lain yang dia lemah. Itu kelemahan yang perlu dia perbaiki. Hanya dia yang boleh perbaiki kelemahan dia. Bukan kita. Itu bukan kerja kita. Bak kata jack “ kita boleh bawak kuda pergi tempat minum, tapi kalau dia takmau minum, dia tak akan minum jugak”

Menerima, manusia sepertimana kita menerima manusia. Sifat manusia : lemah, jauh dari sempurna, tak mungkin sempurna, banyak kelemahan. Sebagaimana kita hormat, respek, sebab dia ayah kita, kakak kita, bos kita? Dia tetap ada kelemahan. Ur are my dad, so u should...u should not...???blablabla. Ayah ker, pakcik ker, aper ker, tetap ada kelemahan. kita kena terima.Manusia biasa bukan seperti nabi, nabi maksum. Jadi kalau kita nak expectation yang terbaik, hanya pada nabi lah, kalau nak cari cth dalam kalangan manusia lah. Sebab tu Allah kata, jangan berharap pada manusia, hanya berharap dan meminta padaNYA.

Kesimpulannya, kita perlu melihat manusia secara SAMA RATA. Kerana kita semunya sama, tak lebih tak kurang. Bila tengok yang lebih dari kita- sebenarnya, nampak saja lebih, adala dia lebih dekat mana-mana, tapi ada jugak kurangnya dekat mana-mana. Dan kadang-kadang kita lihat orang yang kurang baik dan kurang bekenan kita akan sikapnya, tapi adala baiknya dia dekat mana-mana. KITA SEMUA SAMA.

Apa kelebihan mempunyai sikap memandang semua manusia secara sama rata?

Bila kita melihat orang yang lebih hebat dari kita, contohnya, dia lebih pandai, dia lebih kaya, dia lebih cantik, dia lebih berpangkat. Kalau kita tak boleh pandang secara sama rata, kita akan ada rasa sedikit segan. Bila kita segan dengan seseorang, komunikasi kita akan tersekat. Bila tersekat, kita akan kurang kawan dari semua golongan, dan kurang ilmu yang boleh didapati daripada orang-orang tersebut. Kalau kita pandang orang secara SAMA. Lantakla, Datuk ker, PM ker, lawa cam hapa ka, kaya macam firaun ka, apa-apala..kita masih boleh rasa KITA SAMA JA. Mungkin dia lebih tang situ, aku lebihnya kat lain. Masing-masing dikurniakan satu kelebihan oleh Allah, berdasarkan apa yang paling kita perlu kan. Dia pun ada banyak lagi kelemahan. Aku setakat nampak apa yang ditonjolkan. The story behind, who knows? So kita sama.

Bila kita melihat sikap seseorang yang kita tak bekenan. Selalunya, bila kita tak kenan, kita mulala...dah start pandang slack. Bila pandangan kita slack, kita memberi satu pandangan yang tidak bersangka baik sebenarnya ( tidak mengikut hukum Islam). Then, camna hub kita, bila kita dah pandang slack? Habisla, camne nak go on. Pandangan pun dah slack. Sebenarnya, se slack2 pandangan kita, dia banyak lagi kebaikan-kebaikan lain yang kita tak tau. Mungkin betul apa yang dislackkan tu, tapi tak bermakna dia takdak kebaikan lain. Kebaikan yang lebih baik dari kita? Atau mungkin suatu hari nanti dia berubah jauh lebih baik dari kita? Siapa yang tahu. Hanya Allah yang tahu. Kan?

Jadi, terima semua manusia seadanya, pandangla semua orang secara sama rata. KITA SAMA. Penilaian Allah jua yang Maha Hebat. Meliputi yang extrinsik dan intrinsik.

Artikel ini sekadar pandangan seorang insan yang pernah berharap pada manusia, namun harapan itu semuanya telah hancur berderai~~ Maaf andaikata ada pandangan yang tidak patut diselit dan diperkatakan. Benarlah, banyak hikmah di sebalik sesuatu. Kita hanya layak berharap pada Allah yang satu.


Monday, January 15, 2007

Five Defining Characteristics of Great CEOs

Picture created by Faizah Razaly CEO
by: Jan B. King

1. Personal insight - Great CEOs are great leaders. They know themselves and what they stand for. They have been called on all their lives as problem solvers because others know them to be fair and impartial. People respect their opinions and look to them for guidance. Great CEOs are mature as people. They can suffer disappointment more gracefully than others and give others credit for their achievements.

They don’t come in the office door yelling for something they need. They aren’t as concerned about titles or power structures as they are about the welfare of those who work at the company. They are trustworthy because they’ve always been honest with people and have earned that trust.

They care about families, and they know that people are more important than dollars and express it in their actions every day. Finally, great CEOs seek out feedback. They want to know how others see them so that they can understand themselves better and continue to grow as people.

They also want feedback about the company from an employee perspective, and they use surveys as a starting point for creating a dialogue to make things better.

2. Resourcefulness - Great CEOs seem to have boundless energy. They come to work with the greatest enthusiasm. Even when they don’t feel like it, they find ways to reenergize themselves and come in ready to go.

They take good care of themselves physically and emotionally so that they can be there for the employees and the needs of the company. They give much more than they take every day. They don’t give up. If the wall is too high, they back down and find another way around. They don’t blame, but they do look for solutions to problems so that those problems are less likely to happen again.

3. Courage - The CEO has one of the world’s toughest jobs. No matter how tough it was to start the company, it’s even harder to keep it going and growing. A CEO must decide what he or she stands for and do what is right, all the time.

It takes courage to fire the salesperson responsible for the company’s biggest, most lucrative account when that same salesperson drives a company car drunk and causes an accident.
There will be many times when CEOs will want to smooth over something that requires decisive action because of the potential consequences or because they just can’t take on one more challenge at the moment. However, CEOs who exercise poor moral judgment will lose their personal integrity with all of their employees watching.

4. Willingness to look at risk - A great CEO isn’t afraid to look at the downside and answer the hard questions he or she hopes will never become a reality. The CEO needs a backup plan—one that is designed by looking at the company’s worst-case scenarios.

This plan addresses questions such as: What if your industry experiences a slump? What if new governmental regulations affect your business? What if you lose the client that accounts for 50 percent of your sales? Preparing yourself and your company for these eventualities may be the difference between a tough year or two and bankruptcy.

If you are in business for 20 years, some of your worst-case scenarios will probably happen. The key is to be ready and able to take immediate action to reduce the loss.

5. Foresight - It seems some CEOs have an uncanny ability to predict the future. They may have unusual insights into their particular markets, and luck may play a part as well. In addition, they are prepared to create their own luck by cultivating an ability to see opportunities for their company and to make the deals that convert those opportunities into realities.

Some things that may seem like amazing foresight are actually the result of the hard work and discipline it takes to constantly look forward to build a successful company. Great CEOs must also constantly develop new products to build and retain a customer base.

Foresight is also the ability to hire and retain the right people, looking ahead toward the growth of the company. Finally, over time, each company must develop a steady source of business during both good economic times and bad, because there are sure to be bad economic times during the life of a business.