FOKUSLAH
Mari menulis!
Penat menanggung perasaan arini. Kalau penat menanggung perasaan tuh, bukan disebabkan arini ja, bermakna ada la hari2 sebelum ni yang tidak dimanfaatkan dengan sepenuhnya. Ada perkara-perkara pending dalam kepala yang tak diserahkan pada Allah.
Bila penat sangat ngan perasaan, mula la nak nangis. Macam2 pikir. Time2 gini salu pasang lagu Wali Band - Aku Cinta Allah ngan lagu Dewa - Hadapi dengan senyuman. :)
At one side, rasa nikmat sangat, bila dapat bekerja dekat dengan rumah sendiri. Tak yah lagi jalan jauh2, nek train, mlm2 baru sampai umah. Balik umah pun tak sunyi. Rasa sangat nikmat. Namun, sebelum perasaan 'menghargai' seadanya itu hadir, terlebih dahulu Allah sudah melatih diri dengan suatu kondisi lain sebelumnya, supaya aku lebih 'menghargai' saat-saat begini. If dari dulu, keje kat sni ja, sahih rasa diri tak berkembang.
I am such person that value the experiences that gathered daripada persekitaran, dan kerapkali, pengalaman tersebut bukan dari satu sudut sahaja, namun diambil dari pelbagai sudut kehidupan. Hanya dengan melangkah untuk memenuhi inkuiri, kita dapat mengalami dan bereksperiman sendiri dengan dunia dan manusia. Peluang yang Allah berikan untuk memahami dunia dan kehidupan ini, sangat bermakna jika imbas kembali.
I am a person, yang pernah menjadi begitu pasti dengan masa depan. Kaya dengan plan2 :) and I'm sure regarding what I wanna be.
Namun, jika ditanya skang ni, jie nak apa? jie nak jadi apa? . Perhaps, mungkin hanya tersenyum, dan menjawab, terserah, bergantung kepada apa didikan Allah seterusnya.
I've read somewhere, ada seorang yang bertanya, apa gunanya kita percaya kepada Allah dan agama? Untuk mendapat apa yang kita mahukan, kita tak perlukan agama. Kita ada usaha, dan kita ada logik akal.~
Jawapannya apa ya? Penulis jawapan soal jawab, memberikan analogi. Akal memang berguna, di saat lautan masih tenang, kita boleh berenang dan berusaha ke tepian. Namun, takkala lautan bergelora dengan dasyatnya, di situlah kita berharap, agar ada kapal yang lalu untuk menyelamatkan diri. ~
Paham analogi tu?
I've been in that feeling. Hanya menunggu dan berdoa agar ada kapal yang lalu untuk menyelamatkan. Motivasi diri dengan usaha menjunam secara perlahan-lahan dari 100%, sehingga -10% rasanya. Tak mampu lagi berenang. Dah cramp dalam menongkah lautan bergelora. Feeling~
Di saat mengalaminya...Pasti saja berasa..bila nak kuar dari lautan ni??Sudahlah, tak mahu meneroka lautan lagi..Yang diharap adalah penerokaan bermakna utk kehidupan dan pengalaman, namun belum sempat berenang indah, sudah dilanda badai pula...Penuh dengan persoalan, percaturan, dan mempersoalkan tentang kebebasan diri dan kemampuan diri. Bercampur aduk segalanya. Segala-galanya hanya persoalan tanpa jawapan.
Namun kini, terima kasih kepada Allah, kerana telah mendidik diri untuk mengenal apa itu 'rasa'nya indah dalam menjadi seorang 'hamba'. Hamba yang sepatutnya merasa lemah, tiada kemampuan disisiNya, tapi rasa macam pandai dah berenang, rasa macam skill berenang ini, akan enhance ke skill2 lain dalam meneroka lautan. Itu perasaan hamba yang tak sedar diri. Hamba yang bodoh lagik sombong. Bongkak lagi juah mungkin.
Di saat2 hamba yang bodoh sombong, dan bongkak ini dah cramp dalam menongkah arus, di situlah ia terjelepok merintih dan berdoa. Sempit sudah nafsunya dengan kebodohan, kesombongan, ia kini kembali sedar dan kembali kepada fitrahnya yang asal, -hina, lemah, dan tiada daya dan upaya tanpa Allah disisinya.
Perasaan yang sangat diinginkan~ dan diilhamkan dengan pencarian~ dan dilatih dan dididik dengan ujian~.
Nikmat sebentar rasanya hidup, pabila mengenang diri, aku ini hamba yang lemah, tiada apa-apa, namun Allah yang memberikan aku nikmat-nikmatNya. Banyaknya nikmat-nikmat Allah pada diri ini~.
Namun kadangkala, terlanjur jua sifat2 ketamakan dengan dunia. Diri melihat diri, apa lagi? apa lagi? Rasa kurang berusaha. Apa lagi yang perlu aku dapat dengan dunia?
Lantas menasihati diri, setiap manusia ada kelemahannya sayangku. Kita tidak bisa mendapat semuanya.
When I was in secondary school, suka tengok orang-orang yang boleh present dengan baik. Aku lagi suke wat keje2 belakang tabir kot, tulis2 kat ketas mahjong, taip2, document2...kekuatan lebih ke situ kot. Can I be someone that can present well?
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit.
Suka tgok orang naik stage nyanyi2. Can I be someone that can have such confidence?
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit.
Itu contoh. Masih banyak lagi, contoh2 lain yang tidak dikemukakan dan diimbas.
Skang nak apa jie?
:) Tersenyum saja, simpan hanya pada diri sendiri..
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit. Masanya akan tiba.
Perkembangan kematangan manusia, proses-proses didikan Allah pada kita, semuanya adalah milikNya.
Bukankah jie seorang hamba, yang tidak layak mempunyai apa-apa? Insaflah jie, dan bersyukurlah dengan apa yang ada. Qanaah. Latihlah sifat itu, dengan didikan yang Allah bagi ni.
Setelah 25 tahun meniti kehidupan, terasa benar....
Sebenarnya, hidup ini, biar apa saja yang kita miliki, biarlah ia menjadi aset untuk mendekatkan kita kepada Allah.
Mendapat nikmat, kita bersyukur.
Mendapat musibah, kita bersabar.
Sabarlah sebentar dengan keinginan itu Ya. Jangan pernah menentang takdir Allah pada kita semua. Jangan pernah mempersoalkan. Namun terus menerus menanam sepenuh kepercayaan kepada Allah. Teruslah percaya dengan sepenuh keyakinan ini pasti didikan Allah yang seterusnya. Didikan, didikan, didikan.
Teringat, kata-kata ustaz, orang-orang yang tidak mahu tunduk dengan Allah, terus melakukan kemungkaran, namun, ia seolah-olah orang yang memiliki segalanya di dunia, ia mungkin termasuk dalam golongan istidraj.
Di samping bersabar, bersyukurlah jie, kerana, Allah masih menyayangi jie, dengan dugaan-dugaan yang merupakan anugerahnya pada jie.
Andai terserabut jua pemikiran, bungkus saja ia, serahkan pada Allah. Harap Allah kurniakan ketenangan, dan teruskanlah, dalam melaksanakan yang disuruh dan meninggalkan larangan. Pejam mata, harungi semuanya. Dengan beringat, sebagaimana rasa lelah pada masa ini, ia akan tamat jua, dan pengalaman dalam melaluinya hanya akan disampai dan dikongsikan sekejap cuma.
Seperti mana, jie telah merasa keluar dari lautan yang bergelora. Saat merasanya, lama. Namun pabila telah berlalu, ia sekejap cuma.
Hargailah saat-saat hidup jie, jangan menekan diri dan perasaan, untuk perkara penting, namun bukan PALING PENTING.
Di saat kematian menjelma, dan jie dibangkitkan semula, dirasakan DUNIA yang telah dilalui, hanya sekejap cuma. Sekelip mata ia berlalu.
FOKUSlah sayang, dengan YANG PALING PENTING itu. Dan FOKUS itu, bukan hanya bermakna memilih sesuatu untuk difokuskan, tetapi menepis, pelbagai perasaan yang menganggu fokus tersebut.
006:027 Dan sungguh ngeri jika engkau melihat ketika mereka didirikan di tepi neraka (untuk menyaksikan azabnya yang tidak terperi), lalu mereka berkata: "Wahai kiranya kami dikembalikan ke dunia, dan kami tidak akan mendustakan lagi ayat-ayat keterangan Tuhan kami, dan menjadilah kami dari golongan yang beriman".
006:028 (Mereka mengatakan yang demikian bukanlah kerana hendak beriman) bahkan setelah nyata kepada mereka apa yang mereka selalu sembunyikan dahulu; dan kalau mereka dikembalikan ke dunia sekalipun, tentulah mereka akan mengulangi lagi apa yang mereka dilarang dari melakukannya; dan sesungguhnya mereka adalah tetap pendusta.
006:029 Dan tentulah mereka akan berkata pula: "Tiadalah hidup yang lain selain dari hidup kita di dunia ini, dan tiadalah kita akan dibangkitkan semula sesudah kita mati".
006:031 Sesungguhnya telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mengadap Allah; sehingga apabila hari kiamat datang secara mengejut kepada mereka, mereka berkata; "Aduhai kesalnya kami atas apa yang telah kami cuaikan dalam dunia!" Sambil mereka memikul dosa-dosa mereka di atas belakang mereka. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
006:032 Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan: dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir?
006:070 Dan jauhkanlah diri dari orang-orang yang menjadikan ugama mereka sebagai permainan dan hiburan, dan mereka pula telah diperdayakan oleh kehidupan dunia dan peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu supaya tiap-tiap diri (di akhirat kelak) tidak terjerumus (ke dalam azab neraka) dengan sebab apa yang ia telah usahakan (dari perbuatan yang buruk dan keji). Tidak ada baginya pelindung dan tidak juga pemberi syafaat yang lain dari Allah. Dan jika ia hendak menebus (dirinya) dengan segala jenis tebusan, (nescaya tebusan itu) tidak akan diterima daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam azab neraka) dengan sebab apa yang telah mereka usahakan. Bagi mereka disediakan minuman dari air panas yang menggelegak, dan azab seksa yang tidak terperi sakitnya, disebabkan mereka kufur ingkar (semasa hidupnya).
Penat menanggung perasaan arini. Kalau penat menanggung perasaan tuh, bukan disebabkan arini ja, bermakna ada la hari2 sebelum ni yang tidak dimanfaatkan dengan sepenuhnya. Ada perkara-perkara pending dalam kepala yang tak diserahkan pada Allah.
Bila penat sangat ngan perasaan, mula la nak nangis. Macam2 pikir. Time2 gini salu pasang lagu Wali Band - Aku Cinta Allah ngan lagu Dewa - Hadapi dengan senyuman. :)
At one side, rasa nikmat sangat, bila dapat bekerja dekat dengan rumah sendiri. Tak yah lagi jalan jauh2, nek train, mlm2 baru sampai umah. Balik umah pun tak sunyi. Rasa sangat nikmat. Namun, sebelum perasaan 'menghargai' seadanya itu hadir, terlebih dahulu Allah sudah melatih diri dengan suatu kondisi lain sebelumnya, supaya aku lebih 'menghargai' saat-saat begini. If dari dulu, keje kat sni ja, sahih rasa diri tak berkembang.
I am such person that value the experiences that gathered daripada persekitaran, dan kerapkali, pengalaman tersebut bukan dari satu sudut sahaja, namun diambil dari pelbagai sudut kehidupan. Hanya dengan melangkah untuk memenuhi inkuiri, kita dapat mengalami dan bereksperiman sendiri dengan dunia dan manusia. Peluang yang Allah berikan untuk memahami dunia dan kehidupan ini, sangat bermakna jika imbas kembali.
I am a person, yang pernah menjadi begitu pasti dengan masa depan. Kaya dengan plan2 :) and I'm sure regarding what I wanna be.
Namun, jika ditanya skang ni, jie nak apa? jie nak jadi apa? . Perhaps, mungkin hanya tersenyum, dan menjawab, terserah, bergantung kepada apa didikan Allah seterusnya.
I've read somewhere, ada seorang yang bertanya, apa gunanya kita percaya kepada Allah dan agama? Untuk mendapat apa yang kita mahukan, kita tak perlukan agama. Kita ada usaha, dan kita ada logik akal.~
Jawapannya apa ya? Penulis jawapan soal jawab, memberikan analogi. Akal memang berguna, di saat lautan masih tenang, kita boleh berenang dan berusaha ke tepian. Namun, takkala lautan bergelora dengan dasyatnya, di situlah kita berharap, agar ada kapal yang lalu untuk menyelamatkan diri. ~
Paham analogi tu?
I've been in that feeling. Hanya menunggu dan berdoa agar ada kapal yang lalu untuk menyelamatkan. Motivasi diri dengan usaha menjunam secara perlahan-lahan dari 100%, sehingga -10% rasanya. Tak mampu lagi berenang. Dah cramp dalam menongkah lautan bergelora. Feeling~
Di saat mengalaminya...Pasti saja berasa..bila nak kuar dari lautan ni??Sudahlah, tak mahu meneroka lautan lagi..Yang diharap adalah penerokaan bermakna utk kehidupan dan pengalaman, namun belum sempat berenang indah, sudah dilanda badai pula...Penuh dengan persoalan, percaturan, dan mempersoalkan tentang kebebasan diri dan kemampuan diri. Bercampur aduk segalanya. Segala-galanya hanya persoalan tanpa jawapan.
Namun kini, terima kasih kepada Allah, kerana telah mendidik diri untuk mengenal apa itu 'rasa'nya indah dalam menjadi seorang 'hamba'. Hamba yang sepatutnya merasa lemah, tiada kemampuan disisiNya, tapi rasa macam pandai dah berenang, rasa macam skill berenang ini, akan enhance ke skill2 lain dalam meneroka lautan. Itu perasaan hamba yang tak sedar diri. Hamba yang bodoh lagik sombong. Bongkak lagi juah mungkin.
Di saat2 hamba yang bodoh sombong, dan bongkak ini dah cramp dalam menongkah arus, di situlah ia terjelepok merintih dan berdoa. Sempit sudah nafsunya dengan kebodohan, kesombongan, ia kini kembali sedar dan kembali kepada fitrahnya yang asal, -hina, lemah, dan tiada daya dan upaya tanpa Allah disisinya.
Perasaan yang sangat diinginkan~ dan diilhamkan dengan pencarian~ dan dilatih dan dididik dengan ujian~.
Nikmat sebentar rasanya hidup, pabila mengenang diri, aku ini hamba yang lemah, tiada apa-apa, namun Allah yang memberikan aku nikmat-nikmatNya. Banyaknya nikmat-nikmat Allah pada diri ini~.
Namun kadangkala, terlanjur jua sifat2 ketamakan dengan dunia. Diri melihat diri, apa lagi? apa lagi? Rasa kurang berusaha. Apa lagi yang perlu aku dapat dengan dunia?
Lantas menasihati diri, setiap manusia ada kelemahannya sayangku. Kita tidak bisa mendapat semuanya.
When I was in secondary school, suka tengok orang-orang yang boleh present dengan baik. Aku lagi suke wat keje2 belakang tabir kot, tulis2 kat ketas mahjong, taip2, document2...kekuatan lebih ke situ kot. Can I be someone that can present well?
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit.
Suka tgok orang naik stage nyanyi2. Can I be someone that can have such confidence?
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit.
Itu contoh. Masih banyak lagi, contoh2 lain yang tidak dikemukakan dan diimbas.
Skang nak apa jie?
:) Tersenyum saja, simpan hanya pada diri sendiri..
Jawapannya boleh...namun lambat sedikit. Masanya akan tiba.
Perkembangan kematangan manusia, proses-proses didikan Allah pada kita, semuanya adalah milikNya.
Bukankah jie seorang hamba, yang tidak layak mempunyai apa-apa? Insaflah jie, dan bersyukurlah dengan apa yang ada. Qanaah. Latihlah sifat itu, dengan didikan yang Allah bagi ni.
Setelah 25 tahun meniti kehidupan, terasa benar....
Sebenarnya, hidup ini, biar apa saja yang kita miliki, biarlah ia menjadi aset untuk mendekatkan kita kepada Allah.
Mendapat nikmat, kita bersyukur.
Mendapat musibah, kita bersabar.
Sabarlah sebentar dengan keinginan itu Ya. Jangan pernah menentang takdir Allah pada kita semua. Jangan pernah mempersoalkan. Namun terus menerus menanam sepenuh kepercayaan kepada Allah. Teruslah percaya dengan sepenuh keyakinan ini pasti didikan Allah yang seterusnya. Didikan, didikan, didikan.
Teringat, kata-kata ustaz, orang-orang yang tidak mahu tunduk dengan Allah, terus melakukan kemungkaran, namun, ia seolah-olah orang yang memiliki segalanya di dunia, ia mungkin termasuk dalam golongan istidraj.
Di samping bersabar, bersyukurlah jie, kerana, Allah masih menyayangi jie, dengan dugaan-dugaan yang merupakan anugerahnya pada jie.
Andai terserabut jua pemikiran, bungkus saja ia, serahkan pada Allah. Harap Allah kurniakan ketenangan, dan teruskanlah, dalam melaksanakan yang disuruh dan meninggalkan larangan. Pejam mata, harungi semuanya. Dengan beringat, sebagaimana rasa lelah pada masa ini, ia akan tamat jua, dan pengalaman dalam melaluinya hanya akan disampai dan dikongsikan sekejap cuma.
Seperti mana, jie telah merasa keluar dari lautan yang bergelora. Saat merasanya, lama. Namun pabila telah berlalu, ia sekejap cuma.
Hargailah saat-saat hidup jie, jangan menekan diri dan perasaan, untuk perkara penting, namun bukan PALING PENTING.
Di saat kematian menjelma, dan jie dibangkitkan semula, dirasakan DUNIA yang telah dilalui, hanya sekejap cuma. Sekelip mata ia berlalu.
FOKUSlah sayang, dengan YANG PALING PENTING itu. Dan FOKUS itu, bukan hanya bermakna memilih sesuatu untuk difokuskan, tetapi menepis, pelbagai perasaan yang menganggu fokus tersebut.
006:027 Dan sungguh ngeri jika engkau melihat ketika mereka didirikan di tepi neraka (untuk menyaksikan azabnya yang tidak terperi), lalu mereka berkata: "Wahai kiranya kami dikembalikan ke dunia, dan kami tidak akan mendustakan lagi ayat-ayat keterangan Tuhan kami, dan menjadilah kami dari golongan yang beriman".
006:028 (Mereka mengatakan yang demikian bukanlah kerana hendak beriman) bahkan setelah nyata kepada mereka apa yang mereka selalu sembunyikan dahulu; dan kalau mereka dikembalikan ke dunia sekalipun, tentulah mereka akan mengulangi lagi apa yang mereka dilarang dari melakukannya; dan sesungguhnya mereka adalah tetap pendusta.
006:029 Dan tentulah mereka akan berkata pula: "Tiadalah hidup yang lain selain dari hidup kita di dunia ini, dan tiadalah kita akan dibangkitkan semula sesudah kita mati".
006:031 Sesungguhnya telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mengadap Allah; sehingga apabila hari kiamat datang secara mengejut kepada mereka, mereka berkata; "Aduhai kesalnya kami atas apa yang telah kami cuaikan dalam dunia!" Sambil mereka memikul dosa-dosa mereka di atas belakang mereka. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
006:032 Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan: dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir?
006:070 Dan jauhkanlah diri dari orang-orang yang menjadikan ugama mereka sebagai permainan dan hiburan, dan mereka pula telah diperdayakan oleh kehidupan dunia dan peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu supaya tiap-tiap diri (di akhirat kelak) tidak terjerumus (ke dalam azab neraka) dengan sebab apa yang ia telah usahakan (dari perbuatan yang buruk dan keji). Tidak ada baginya pelindung dan tidak juga pemberi syafaat yang lain dari Allah. Dan jika ia hendak menebus (dirinya) dengan segala jenis tebusan, (nescaya tebusan itu) tidak akan diterima daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam azab neraka) dengan sebab apa yang telah mereka usahakan. Bagi mereka disediakan minuman dari air panas yang menggelegak, dan azab seksa yang tidak terperi sakitnya, disebabkan mereka kufur ingkar (semasa hidupnya).

0 Comments:
Post a Comment
<< Home