Friday, July 10, 2009

Pre-menstrual syndrome (PMS)

pms2Dear para wanita,

Pernah merasa melankolik gitu…., gampang sedih, discouraged, nelangsa, juga emosional ? Cepet marah sama anak-anak, sensitif, kecil hati, dll… ? Semingguan yang lalu aku merasakan rasa-rasa seperti itu. Malah hari Senin lalu tiba di kantor masih agak-agak error gitu. Sampai-sampai ketika bikin kopi di kantor, sudah dikasih gula pasir, masih aku tambah dua sachet lagi pemanis buatan. Dalam pikiranku, itu sachet creamer….! Waduh, bisa dibayangkan rasanya pasti manis banget…… Tauk deh, pikiranku melayang kemana waktu itu……

Tapi rasa yang terlalu manis itu justru jadi membangunkan aku ….. “Hai, what’s wrong with you ?!” Lalu kepala yang terasa agak berat ikut mengingatkanku…..,”Wah, iya nih….. jangan-jangan lagi kena PMS ..”. (biasanya menjelang haid kepalaku suka pusing-pusing dikit).

Apa sih PMS itu?

PMS adalah singkatan dari pre-mestrual syndrome, yaitu suatu kumpulan gejala (sindrom = kumpulan gejala) yang meliputi gejala fisik, mental, dan perilaku, yang terkait erat dengan siklus menstruasi pada wanita. Secara defisini, maka gejala-gejala ini terjadi beberapa hari sebelum hari H menstruasi. Biasanya gejala ini hilang sendiri pada hari pertama atau kedua haid. Sampai 80 % wanita mungkin mengalami PMS, dan bentuknya sangat bervariasi satu dengan yang lain. Bahkan antar siklus pun bisa bervariasi gejalanya pada seseorang. Menurut penelitian, PMS lebih banyak terjadi pada wanita usia 30-49 tahun. Bahkan pada wanita yang sudah mengalami operasi pengangkatan rahim, masih juga bisa mengalami PMS jika sedikitnya satu ovarium masih ada.

Sebagian lagi, 3-8 % wanita, mungkin mengalami gangguan yang lebih berat, yang disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). PMS dan PMDD tidak sama. Wanita dengan PMDD dapat mengalami depresi sampai seminggu atau lebih sebelum menndapatkan haid, Sedangkan PMS, lebih pendek durasinya, lebih ringan, dan juga gejalanya lebih ke arah fisik. Seorang bisa mengalami PMS saja, atau PMDD, atau kedua-duanya.

Apa penyebab PMS ?

PMS terjadi pada fase luteal pada siklus menstruasi. Fase ini terjadi segera setelah sebuah telur dilepaskan dari ovarium, dan terjadi mulai dari hari 14 sampai hari ke 28 pada siklus menstruasi normal (hari pertama haid dihitung sebagai hari 1). Pada fase luteal ini, hormon dari ovarium menyebabkan lapisan rahim akan menebal dan membentuk seperti sponge. Pada waktu yang sama, telur akan dilepaskan dari ovarium. Jika saat itu ada hubungan seksual, maka telur dapat bertemu sperma yang masuk, dan telur yang sudah dibuahi ini akan menempel di lapisan uterus yang sudah menebal dan spongy tadi untuk tumbuh menjadi janin. Pada saat itu, kadar hormon progesteron akan meningkat, sebaliknya estrogen mulai menurun. Jika pada masa itu tidak ada hubungan seksual yang menyebabkan pembuahan, maka lapisan rahim yang sudah siap tadi menjadi “kecewa”, ….. dan luruh, menjadi darah haid. Pergeseran keberadaan hormon dari estrogen menjadi progesteron inilah yang menyebabkan beberapa gejala PMS.

Yang pertama, para ahli percaya bahwa perubahan kadar progesteron dalam tubuh ini yang menyebabkan perubahan mood, perilaku, dan fisik pada wanita pada fase luteal ini. Progesteron berinteraksi dengan bagian tertentu otak yang terkait dengan relaksasi. Studi yang lebih baru menyatakan bahwa ada perubahan hormon dan neurotransmiter yang mungkin juga bisa menjadi penyebabnya.

Contohnya, pada seseorang itu ada hormon tertentu di sistem saraf pusat yang disebut “endorfin”. Endorfin ini hormon yang menyebabkan perasaan senang, happy mood, dan sekaligus juga membuat orang kurang sensitif terhadap nyeri (obat seperti heroin dan morfin beraksi seperti endorfin). Hormon ini dapat turun kadarnya pada fase luteal dalam siklus haid. Karenanya, pada fase luteal ini kadang wanita merasa kurang happy dan nyeri-nyeri, seperti nyeri haid atau sakit kepala.

Beberapa wanita dengan PMS juga menjadi bertambah berat badan atau sedikit membengkak. Hal ini karena terjadi penahanan air di dalam tubuh. Hormon tadi dapat mempengaruhi ginjal, yang mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh ini kadang juga bisa menyebabkan gejala PMS, terutama berat badan bertambah, sehingga meningkatkan persepsi negatif dan memperburuk kondisi emosi seorang wanita.

Siklus hormonal juga mempengaruhi kadar serotonin, suatu senyawa kimia di otak yang mengatur banyak fungsi, termasuk mood dan sensitivitas terhadap nyeri. Jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami PMS, wanita dengan PMS memiliki kadar serotonin otak yang lebh rendah pada fase luteal ini. Rendahnya kadar serotonin terkait dengan terjadinya depresi.

Teori lain yang mencoba menjelaskan PMS melibatkan prostaglandin, suatu senyawa kimia tubuh yang merupakan mediator inflamasi/radang. Prostaglandin dihasilkan di area-area dimana terjadi PMS, seperti payudara, otak, saluran reproduksi, ginjal, saluran cerna. Ia diduga berkonntribusi terhadap gejala-gejala PMS seperti kram, payudara sakit, diare, atau konstipasi/sembelit.

Apa saja sih gejala-gejala PMS?

Walaupun cukup mengganggu, gejala-gejala PMS biasanya tidak cukup berat yang sampai mengganggu kehidupan normal. Namun demikian, mungkin ada pula yang mengalami gejala yang cukup berat. Beberapa gejala PMS antara lain :

- Mood : kecemasan, nervous, perasaan berubah-ubah (mood swings), sensitif, depresi, pelupa, bingung, insomnia, dll.

- Perilaku : kepengin makan yang manis-manis, nafsu makan meningkat, mudah menangis, kurang konsentrasi, sensitif terhadap kebisingan

- Fungsi fisik : sakit kepala, lelah, pusing/nggliyeng, berat badan meningkat, kembung, payudara membengkak, sembelit atau diare

Apa gejala PMDD ?

Gangguan premenstrual yang lebih berat adalah PMDD. Gangguan ini terdiagnosa hanya jika gejalanya cukup berat sehingga mengganggu fungsi normal seseorang. Bahkan bisa lebih berat dan menyebabkan lebih banyak problem. Seperti PMS, gejala PMDD dimulai 7-14 hari sebelum hari menstruasi, dan hilang ketika menstruasi datang. Namun tidak seperi PMS, PMDD dapat berefek serius pada wanita, dan digolongkan sebagai gangguan kesehatan mental. Seorang wanita dikatakan mengidap PMDD jika ia mengalami 5 atau lebih gejala di bawah ini pada minggu-minggu sebelum menstruasi dan hal itu terjadi dalam hampir setiap kali menstruasi setiap bulannya. Gejala-gejala itu adalah: – depresi (perasaan putus asa, tidak berguna, tidak sekedar sedih saja), kecemasan, peralihan mood yang signifikan, marah, kehilangan interest terhadap aktivitas rutin (bekerja, sekolah, hobi), kesulitan konsentrasi, merasa kehabisan energi, perubahan nafsu makan (jadi rakus terhadap makanan tertentu), gangguan tidur, gejala-gejala fisik : kembung, payudara bengkak, sakit kepala.

Jika gejala ini terjadi di luar siklus menstruasi, maka seseorang mungkin mengalami masalah kesehatan mental, dan perlu pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahlinya.

Bagaimana pengatasannya?

Di bawah ini ada beberapa cara mengurangi gejala PMS.

1. Pengaturan makan/diet : untuk mengurangi kembung dan penahanan air dalam tubuh, hindari makanan bergaram tinggi, terutama seminggu sebelum haid; cukupi kebutuhan vitamin dan mineral , seperti : Vitamin E, vitamin B, kalsium, Magnesium (dapat diperoleh dari makanan misalnya kacang-kacangan, gandum, sayuran hijau, seafood dan daging)

2. Latihan aerobik dan relaksasi

3. Menggunakan obat.

Beberapa obat yang dapat digunakan antara lain adalah obat anti radang dan penghilang nyeri. Parasetamol dan ibuprofen, merupakan pilihan yang cukup aman untuk mengatasi nyeri haid, sakit kepala, sakit payudara, dll. Kedua, golongan obat penenang dan anti depresan, tapi ini hanya jika sangat diperlukan, misalnya pada PMDD, dan harus diperoleh dengan resep dokter. Contohnya: diazepam (Valium), alprazolam, fluoksetin, sertralin. Ketiga, diuretik, yaitu untuk meningkatkan pengeluaran urin. Ini akan membantu mengurangi cairan tubuh sehingga mengatasi gejala PMS seperti kembung, payudara bengkak, atau peningkatan berat badan. Tapi ini pun harus diperoleh dengan resep dokter.

Nah, kawan….

tidak semua wanita mengalami PMS. Buat yang mengalami dan tidak kuat menahannya, boleh saja menggunakan obat. Tapi kalau masih merasa kuat tanpa obat, yah… nikmati sajalah… Ini kan bagian dari perjuangan seorang wanita…. Dan buat para pria, mudah-mudahan posting ini akan membuat Anda lebih memahami seluk beluk wanita di sisi Anda…..

Semoga bermanfaat.

Sumber : http://zulliesikawati.wordpress.com/2009/02/27/pre-menstrual-syndrome/

5 Comments:

Anonymous kakak said...

waduh waduh...kenapa bunyinya indon sih..hehe ingatkan ji yg tulis..hehehe panjang sihh..mau pusing kepala gue baca haha

7/10/2009 7:45 AM  
Anonymous mama fahim said...

Fahim pun buleh PMS ka? hehehe

7/10/2009 7:46 AM  
Blogger Cikgu Sains said...

promosi sikit...

7/10/2009 7:47 AM  
Blogger aszifa_aris said...

Mai mana jie tulis bahasa indon sihhh...hehe...

pusing ka baca....jie paham jaa..hehe..besh blog pompuan yg tulih menda ni...byk info2..

Cikgu sains..! sy dh click2!

7/12/2009 3:52 PM  
Blogger Cikgu Sains said...

shhhhh!!!klik2 jgn bising2..hehehe

7/12/2009 10:10 PM  

Post a Comment

<< Home