Thursday, September 25, 2008

Hanya keranaNya

This might be a long post. Dan mungkin tidak tersusun untuk pemahaman sekalian. Ia menjadi satu post luahan. So dont waste ur time here. Pegi wat kija lain yang lagik penting daripada membaca blog aku yg ntah paper ni..

Hati aku sakit, sakit, sakit macam ari convex arituh, sakit mcm mlm log off nite arituh. Satu sifat yang ayah aku cukup tak gemar pada aku, aku suka masuk dengan masalah yng aku tak boleh nak kawal. Ayah aku suka cakap, aku patut biaq saja. Tak payah pikir pun. Jaga diri jie sudah, jangan sedih dengan persekitaran. Biaqla, apa yang tak kena dengan persekitaran, dengan orang len, bukan urusan jie. Jaga diri jie sudah. Tapi sungguh aku tak mampu.

Sekali lagi aku jatuh dari tidak masuk, kalau suatu perkara tuh jadi kat diri aku sendiri, insyaallah, akan aku pohon kekuatan dari Allah, untuk aku mengubah sesuatu dalam diri aku, dan aku akan memutarbelitkan segala kebolehan yang Allah berikan untuk aku, untuk aku tetap berfikir dengan hikmahnya. Namun bila melibatkan ramai orang, aku jadi kaku. Jiwa aku akan sakit, kalau ia melibatkan sekelompok insan2 teraniaya, yang hanya boleh menonton sandiwara dunia. Sometimes i just pusth myself so hard, so that, sekeliling aku bergerak seiring, menuju sesuatu, supaya kita tidak dipijak lagi seadanya oleh orang2 yang tidak bertanggungjawab dengan kewajipan dunia untuk berlaku adil sebagai seorang manusia.

Hal-hal mcam ni, tak boleh membuat aku lari dari memandang jijik dunia. Aku terkenangkan akhirat, di mana semua ini akan berakhir, dan yang berhak, akan mendapat hak, yang benar akan mendapat benarnya, di mana senang lenang tanpa perlu memikirkan sandiwara dan lakonan2 keji dunia, demi kepentingan diri sendiri, dan kelompok sendiri, bukan untuk kepentingan secara sama rata. Aku tahu, aku insan emosi, namun aku masih berusaha keras untuk mengawalnya. Alhamdulillah, kesesakan nafas masih terkawal, walau pun ada panas air menitik tadi. Tapi takde org notice. Hanya aku.

Kadang2 aku duduk mempersoalkan, mengapa aku sering dihadapkan dengan situasi yang sebegini, sungguh, kalau bercakap berdua, bertiga, tak akan aku ungkap kata-kata sebegini, kerana ia suatu situasi, yang tak mampu kita ubah sekarang, selagi mana kita belum kukuh dalam membangunkan diri sendiri. Lebih baik aku berdiam, dan teruskan, daripada aku menghujahkan sesuatu yang tidak akan mengubah apa-apa. Jika aku negatif dalam menghadapinya, ntah berapa ramai lagi yang turut sama akan negatif. Negatif itu akan membunuh, hanya positif yang dapat membantu. Ya Allah, kuatkan aku, dan permudahkan urusan duniaku, kerana di dalamnya aku hidup.

Sekali lagi aku terpandang syurga, yang nyaman udaranya. Tidak seperti di dunia, perlu berjuang dengan situasi yang entah apa-apa. Namun jika syurga itu terlalu murah, Allah tidak akan gadaikannya, dengan menetapkan, kita untuk tetap teguh melaksanakan yang disuruh, dan meninggalkan yang ditegah.

Itu jawapan untuk aku. Sebab itulah aku sering dihadapkan dengan situasi dan jiwa aku berasa sebegini. Untuk diuji, dan mendapat syurga, jika aku cukup hebat dalam mengumpul saham, untuk membayar ketinggian syurga.

Apa yang boleh aku lakukan Ya Allah, segalanya, berlaku dengan izinMu, sesungguhnya, bila aku berasa teraniaya, jiwa aku mula memberontak, meminta, supaya Allah tunjukkan yang benar, supaya suatu hari nanti, terbukti perbuatan aku benar, kerana sungguh aku berasa teraniaya, aku sakit, dan aku harap aku terubat.Aku tak mahu berharap pada yang lain, hanya padaMu aku ingin berharap. Namun itu jua ingin ku kikis, sekiranya, baik pandangan orang, baiklah, namun sekiranya, aku ingin teguh dijalanMu, aku tak patut mempertimbangkan apa-apa, sungguh ia hanya akan merosakkan amalku.

KEENAM
Setelah jalan kelima gagal, maka syaithan mengajukan jalan keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang disebut sebelumnya. Dan tidak akan dapat menyadarinya kecuali orang yang hidup pikirannya. Syaithan berkata dengan mendesuskan di hati manusia: "Bersungguh-sungguhlah engkau beramal dengan sirr (rahasia), jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan mendzahirkan amalmu terhadap manusia, dan akan mengatakan bahwa engkau adalah hamba Allah yang Ikhlas". Syaithan mencampurbaurkan terhadap setiap orang yang beramal dengan tipu dayanya yang halus sekali. Dengan ucapannya itu syaithan bermaksud untuk memasukkan sebagian dari penyakit riya.

Orang-orang yang dipelihara oleh Allah menolak ajakan syaithan ini dengan mengatakan : "Hai mal'un (yang dilaknat) tiada henti-hentinya engkau menggodaku untuk merusak amalku dengan rupa-rupa jalan. Dan sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu adalah untuk merusaknya. Aku ini adalah hamba Allah dan Allah yang menjadikan aku. Kalau Allah berkehendak mendzahirkan amalku atau menyembunyikannya, kemudian menjadikan aku mulia atau hina, itu adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak, karena itu bukanlah urusanku". http://cisaat.tblog.com/


Ikhlas, dalam berdua denganMu, bukan mudah, kerana aku hidup beramai di dunia ini. Sungguh, aku mudah dipengaruhi dan dihinggapi. Kadangkala, aku berasa amalku sia-sia belaka, kerna tidak disertai tujuan JELAS hanya padaMu.

Teringat aku, dalam satu malam tu, aku tgh watper ntah, kat tv, ada Dr Asri, ada penonton tanya soalan, ntah aper soalannya aku tak ingat. Namun aku tertarik, dengan penjelasan. "Siapa yang tidak berbuat sesuatu kerana Allah, tidak akan mencium bau syurga ". Aku tahu, bunyinya agak critical. Penjelasannya, "Kalau niat nak kerja ustaz, tapi sebab nak senang dapat kerja, susah nak cari kija, so kija ustaz sajala" Ni contoh saja. Contoh ok, contoh yang Dr Asri bagi. Bagi aku, dia sebut Ustaz, sebab nak tunjuk, betapa mulianya jawatan tu. Namun, niattt...Niat yang tidak didasari Allah, untuk mencari keredhaan Allah. Sia - sia lah. Zero lah.

"Sesungguhnya manusia, takan bisa menikmati surga, tanpa ikhlas di hatinyaa..." Terlintas lagi lirik lagu Ungu, IKHLAS.

Habisla segala penat lelah perjuangan aku, untuk sesuatu yang baik, namun jika aku bergerak, hanya kerana kepuasan psycology. Zero.Rasa dipijak dan terinjak ini, mungkin juga hasil dari dorongan psycology, atau lebih tepat lagik, nafsu aku, yang sedia wujud, gemar membuat pembuktian! Kepuasan psycology...

Semangat, dalam pengertian umum, digu­nakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujud­kan­nya. Apakah penting atau tidak, setiap orang punya tujuan yang ingin dia raih sepanjang hidupnya. Antusiasme, yang sering ditujukan untuk keuntungan material, juga mengemuka ketika nafsu keduniaan dibicarakan. Sebagian orang berusaha untuk menjadi kaya, untuk memiliki karir yang cemerlang atau jabatan yang prestisius, sementara yang lain berusaha untuk tampil lebih unggul atau untuk meraih prestise,penghormatan,dan pujian.

Orang-orang bodoh dan yang lalai ber­usaha untuk mencari kepuasan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan dunia, selama periode waktu yang singkat ini, ketimbang berusaha untuk memperoleh ridha Allah dan surga-Nya. Akibatnya, masalah-masalah mem­­­berinya semangat terbatas pada tujuan-tujuan kecil menyangkut dunia ini. Faktanya, perasaan yang mereka bayangkan sebagai semangat dan gairah tidak lain adalah kera­kusan. Mereka, yang sangat bergairah menja­lani kehidupan ini, merasakan kegai­rah­an besar terhadap segala sesuatu dimana mereka mengharapkan akan memperoleh ke­untung­an dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Maka, orang merasakan hasrat kuat untuk menjadi kaya atau memiliki status atau karir yang prestisius. Untuk mencapai tujuan sema­cam itu mereka melakukan semua bentuk pengorbanan diri dan menahan segala kesulit­an.

Aku ternyata, mendapat jawapan. Jawapan dengan kepalsuan, definisi, definisi kejayaan dari dunia, yang ternyata, lelah di akhirat. Jadi lenyapkanlah segala persoalan, mengapa, sesetangah org yang jauh dari Allah, namun, masih berjaya dari definisi dunia. Mengapa mereka punya semangat yang lain tidak bukan sebenarnya, kerakusan semata-mata, kerana berbuat bukan kerana Allah. Sesungguhnya, petikan ini, satu teguran buat aku sendiri.

Huraiannya, disambung :


Kehidupan sehari-hari orang-orang ini ter­ikat dengan kejadian-kejadian yang mengung­kapkan pemahaman mereka tentang sema­ngat. Sebagai contoh, untuk memperoleh diploma, prestisius yang akan membuat diri­nya memperoleh pengakuan, seorang maha­sis­wa mungkin menenggelamkan diri­nya di tengah buku-buku selama bertahun-tahun. Sadar bahwa ini kondusif bagi keberhasilan, dia rela menghabiskan malam-malam tanpa tidur dan menghindari pergaulan, jika perlu. Hari-harinya dimulai dengan suasana pagi di kendaraan umum yang sesak dan dihabiskan dalam usaha keras, dimana dia menerima dengan senang hati. Namun, dia menolak untuk melakukan pengorbanan yang sama untuk membantu seorang teman karena hal itu tidak memberikan keuntungan duniawi. Apa yang digarisbawahi di sini ialah, bahwa meskipun sebagian besar orang tahu bagai­mana menye­lesai­kan suatu tugas dengan sema­ngat dan gairah, mereka hanya akan melakukannya jika tugas itu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka tidak memper­lihatkan ambisi yang sama untuk sesuatu yang akan mendatangkan ridha Allah, dan mem­per­lihatkan ketidak­mau­tahuan jika ke­untung­an duniawi tak bisa diharapkan.

Mentalitas jahiliah ini, yang hanya di­da­sar­kan pada keuntungan duniawi, dapat digambarkan dengan contoh berikut ini. Seorang eksekutif yang perusahaannya di ambang kebangkrutan mencurahkan seluruh energinya, pengetahuannya, sarana dan waktunya untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi karyawannya tidak merasakan kegai­rah­an yang sama untuk menyelamatkan per­usahaan dan kecil kemungkinannya untuk mencari solusi karena dia bukan orang yang akan mengalami kerugian langsung ketika perusahaan bangkrut. Sebagaimana terlihat, keuntungan duniawi umumnya melandasi semangat dan tekad yang dirasakan oleh para anggota masyarakat jahiliah. Sebesar mana keuntungannya, sebesar ambisi yang mereka miliki.

Karya Harun Yahya - Semangat.


Sesungguhnya, aku hanyalah insan yang rugi, jika air mata, penat lelah, rasa sakitku, aku serahkan buat sesuatu yang hasilnya bakal jadi sia-sia. Terperangkap dalam perbuatan yang baik, namun niat yang belum tulus mungkin. Banyak digerakkan emosi sendiri. Aku sungguh ingin, terus denganMu Ya Allah, tanpa ada sangkut paut lainnya.

Dan sesungguhnya, aku bersyukur, andaikata sakitnya aku hari ini, kerana sesuatu untuk mengangkat darjat agama ku. Dan aku minta perlindungan, andai sakitnya aku hari ini, kerana emosi dan nafsu aku sendiri.

Di Ramadan Yang Mulia ini Ya Allah, aku memohon, seribu kebaikan buat diri kami semua. Jika ada kesalahan dan kepincangan dalam diri kami, maka tariklah kami semula ke jalan kami. Lembutkan dengan seruan azanMu, buat hati2 kami yang keras dalam melaksanakan tanggungjawab buatMu, mungkin itu jua, yang membuat hal-hal ini terjadi. Jauhkan kerosakan dari kami, dan sayangi kami, semoga hati kami bulat untukMu. Dan kami menanti, hari yang pasti, buat mendapat yang hak dan yang benar, di mana pertimbanganMu Ya Allah, tiada diskriminasi. Amin...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home