Di suatu hari...
Kenapa anwar taknak angkat sumpah? Aku bertanya dan tertanya pada rakan aku tadi. Sekadar nak dengar pendapat dengan perasaan ingin tahu. "Jie, cara angkat sumpah macam tuh boleh dipertikaikan, menyerupai bersumpah cara kristian, dalam Islam mana da sumpah macam tuh". Ya saya tahu itu, tapi itu bukan persoalan aku, sumpah satu pihak lagi tu sah. Cuma caranya boleh dipertikaikan.
Sesungguhnya, aku masih tersirap sejuk dengan kenyataan sumpah yang aku baca di blog DrMaza hari sabtu lepas. Betul ke apa aku baca ni, aku skroll naik atas bawah, samada aku tersilap laman, yang tak disahkan kesahihannya. Aku stakat membaca dan menjenguk, sebab aku memang jarang dapat waktu untuk tengok berita. Namun yang ini memang menarik benar bunyinya.
Kalau secara melankoliknya, terjegil mata, ingin tersembul rasanya - berulang2 aku mata aku berulang alik, ulang dan berulang akan ayat akhirnya - Jika saya berdusta, atas pengakuan ini, maka saya berdusta terhadap Allah dan saya sanggup menerima azab, laknat dan kutukan daripada Allah hingga ke kiamat - azab, laknat dan kutukan Allah hingga ke kiamat- hingga ke kiamat, hingga ke kiamat.
Kagum sebentar, dengan kalimah yang diucapkan. Namun kebenarannya, tetap Allah yang tahu. Sebagai umat Islam, yang mengetahui, akan wujudnya pembalasan di akhirat kelak, sedang wujudnya syurga dan neraka, sepastinya, ayat tadi sangat menggerunkan jiwa. Menatapnya saja menggerunkan, apa lagi mengucapkannya. Sedang kita hamba sering berdosa, yang setiap pagi bangunnnya, meronta melawan nafsu yang menggoda jiwa, namun masih mengharapkan keredhaan dan keampunan darinya. Inikan pulak, ingin menyebut hanya satu lafaz kata, yang boleh mengundang Allah melaknat diri kita? Ah, seram sekali!! Tak dapat aku bayangkan, diri dilaknat Allah buat selama-lamanya...
Monolog itu aku simpan saja. Menanti apa yang pasti dari pihak sebelahnya. Lain skali kecenderungan aku akan isu ini kerana semangat politik negara. Namun ia sekadar renungan dalam semata-mata. Hari ni aku balik awal, sempat tgok berita. Medan melemparkan pandangan dan menambah ilmu tampaknya masih belum renyai dari menjadi pusat perbalahan antara parti. Seolah2 menjadi rancangan melodi, yang melemparkan tuduhan satu pihak, dan dibalas pulak dengan statement satu pihak. Semuanya sudah menjadi artis.
Sebagai jiwa muda, yang tinggi darah mudanya, sudah pasti kita mengharapkan kedamaian jujur berani dalam negara. Namun entah. Pada siapa yang boleh dipercaya. Mungkin ramai belia mengambil sikap menyebelahi mana-mana pihak, atau membuat 'derk' tak menghiraukan. Urusan mereka - bukan urusan kita. Mudah sekali ucapannya. Tidak semudah perhitungan dan hisab, yang bakal dijadikan realiti oleh Allah, dan bertanya, akan undi yang telah kita lemparkan. Undi yang dilemparkan untuk memilih pemimpin negara.
Jika sumbernya saja sudah bercelaru, bagaimana untuk melakukan penilaian untuk memilih mana yang benarnya? Hanya Allah saja yang tahu. Dan suatu hari, kita pasti akan mengetahui, di lapangan yang sama akan kita menyaksi, satu demi satu diadili, tiada kisah yang akan terlepas bukti, kerana semuanya sudah kemas dibukukan setiap hari...Saat itu kita beramai-ramai menonton, sebuah kisah yang sememangnya kita nanti.
Mungkin monolog ini juga, boleh diguna untuk menginsafkan diri. Saat, tiada sesiapa di sisi, namun salah amalku tetap dicatiti...Suatu hari, aku sendri, aku sendiri, yang menonton, ke mana kaki ini melangkahi, segala dosa2 hati, segala perasaan yang aku simpan buat diri sendiri, akan dibongkari. Dan aku hanya selayaknya menanti, apa yang bakal terjadi. Entah buku amalku, ku terima dari kanan atau kirinya. Entahkah mungkin aku, tergelincir di titian siratnya...Dalam dosa yang berlimpah, masih kita berharap akan kerahmatan dan keredhaannya. Tak sanggup aku mengundang laknatMu Ya Allah...
Sudah seakannya, satu suara lagi memohon yang pasti. Selamatkanlah bumi Malaysia ini, dan biarkan lidah ciptaanMu dan pinjamanMU ini, hanya berkata yang benar, sepanjang menikmati nikmat-nikmatMu di bumi ini. Subhannallah. Rahmatmu sememangnya meninggi!
Sesungguhnya, aku masih tersirap sejuk dengan kenyataan sumpah yang aku baca di blog DrMaza hari sabtu lepas. Betul ke apa aku baca ni, aku skroll naik atas bawah, samada aku tersilap laman, yang tak disahkan kesahihannya. Aku stakat membaca dan menjenguk, sebab aku memang jarang dapat waktu untuk tengok berita. Namun yang ini memang menarik benar bunyinya.
Kalau secara melankoliknya, terjegil mata, ingin tersembul rasanya - berulang2 aku mata aku berulang alik, ulang dan berulang akan ayat akhirnya - Jika saya berdusta, atas pengakuan ini, maka saya berdusta terhadap Allah dan saya sanggup menerima azab, laknat dan kutukan daripada Allah hingga ke kiamat - azab, laknat dan kutukan Allah hingga ke kiamat- hingga ke kiamat, hingga ke kiamat.
Kagum sebentar, dengan kalimah yang diucapkan. Namun kebenarannya, tetap Allah yang tahu. Sebagai umat Islam, yang mengetahui, akan wujudnya pembalasan di akhirat kelak, sedang wujudnya syurga dan neraka, sepastinya, ayat tadi sangat menggerunkan jiwa. Menatapnya saja menggerunkan, apa lagi mengucapkannya. Sedang kita hamba sering berdosa, yang setiap pagi bangunnnya, meronta melawan nafsu yang menggoda jiwa, namun masih mengharapkan keredhaan dan keampunan darinya. Inikan pulak, ingin menyebut hanya satu lafaz kata, yang boleh mengundang Allah melaknat diri kita? Ah, seram sekali!! Tak dapat aku bayangkan, diri dilaknat Allah buat selama-lamanya...
Monolog itu aku simpan saja. Menanti apa yang pasti dari pihak sebelahnya. Lain skali kecenderungan aku akan isu ini kerana semangat politik negara. Namun ia sekadar renungan dalam semata-mata. Hari ni aku balik awal, sempat tgok berita. Medan melemparkan pandangan dan menambah ilmu tampaknya masih belum renyai dari menjadi pusat perbalahan antara parti. Seolah2 menjadi rancangan melodi, yang melemparkan tuduhan satu pihak, dan dibalas pulak dengan statement satu pihak. Semuanya sudah menjadi artis.
Sebagai jiwa muda, yang tinggi darah mudanya, sudah pasti kita mengharapkan kedamaian jujur berani dalam negara. Namun entah. Pada siapa yang boleh dipercaya. Mungkin ramai belia mengambil sikap menyebelahi mana-mana pihak, atau membuat 'derk' tak menghiraukan. Urusan mereka - bukan urusan kita. Mudah sekali ucapannya. Tidak semudah perhitungan dan hisab, yang bakal dijadikan realiti oleh Allah, dan bertanya, akan undi yang telah kita lemparkan. Undi yang dilemparkan untuk memilih pemimpin negara.
Jika sumbernya saja sudah bercelaru, bagaimana untuk melakukan penilaian untuk memilih mana yang benarnya? Hanya Allah saja yang tahu. Dan suatu hari, kita pasti akan mengetahui, di lapangan yang sama akan kita menyaksi, satu demi satu diadili, tiada kisah yang akan terlepas bukti, kerana semuanya sudah kemas dibukukan setiap hari...Saat itu kita beramai-ramai menonton, sebuah kisah yang sememangnya kita nanti.
Mungkin monolog ini juga, boleh diguna untuk menginsafkan diri. Saat, tiada sesiapa di sisi, namun salah amalku tetap dicatiti...Suatu hari, aku sendri, aku sendiri, yang menonton, ke mana kaki ini melangkahi, segala dosa2 hati, segala perasaan yang aku simpan buat diri sendiri, akan dibongkari. Dan aku hanya selayaknya menanti, apa yang bakal terjadi. Entah buku amalku, ku terima dari kanan atau kirinya. Entahkah mungkin aku, tergelincir di titian siratnya...Dalam dosa yang berlimpah, masih kita berharap akan kerahmatan dan keredhaannya. Tak sanggup aku mengundang laknatMu Ya Allah...
Sudah seakannya, satu suara lagi memohon yang pasti. Selamatkanlah bumi Malaysia ini, dan biarkan lidah ciptaanMu dan pinjamanMU ini, hanya berkata yang benar, sepanjang menikmati nikmat-nikmatMu di bumi ini. Subhannallah. Rahmatmu sememangnya meninggi!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home