Thursday, November 02, 2006

The Art Of Loving


Erich Fromm dalam bukunya 'The Art of Loving' menulis
bahwa para manusia modern sesungguhnya adalah
orang-orang yang menderita. Penderitaan tsb
diakibatkan oleh kehausan mereka untuk dicintai oleh
orang lain. Mereka berusaha keras untuk melakukan apa
saja agar dapat dicintai. Tidak sedikit remaja yang
terjerumus pergaulan bebas karena mereka ingin
dicintai dan diterima oleh kawan sebayanya. Banyak
kaum wanita yg 'bertabaruj' karena mereka ingin
mendapat perhatian dari lawan jenisnya. Para
politikuspun tidak segan-segan berdusta dan menipu
agar dicintai para pengikut dan pendukungnya.
Dalam 'Manthiq Al-Thayr' atau Musyawarah para burung,
Fariddudin Attar berkisah tetang burung Bulbul yang
begitu mencitai mawar sehingga ia berkata, 'Cukuplah
bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin sepenuhnya mawar
itu akan selalu mengembangkan putik-putik sarinya
karena kecintaannya jua kepadaku. Aku tak bisa hidup
jika harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup bila tak
dapat lagi memandang rekahan mawar itu.'
Namun kemudian burung Huhud yang menjadi penyampai
pesan dari Nabi Sulaiman kepada ratu Bilqis
menasehatinya, 'Ketahuilah kecintaanmu terhadap mawar
itu adalah kecintaan yg palsu. Jangalah engkau
terpesona dengan keindahan lahiriah. Mawar hanya
merekah dimusim semi. Begitu tiba musim gugur maka
mawar itu akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan
menertawakan cintamu...'
Melalui kisah tsb Fariddudin ingin menggambarkan bahwa
sesungguhnya kecintaan terhadap mahluk itu adalah
bersifat sementara. Karena barometer yg dipakai adalah
unsur keindahan sang mahluk. Cinta itu akan sirna
tatkala tidak dijumpai lagi keindahan didalamnya.
Memang sering kali kita terperangah dan takjub melihat
sesuatu yang indah yg tertangkap oleh kedua mata kita,
sehingga membuat mata kita silau yg pada akhirnya
justru kita terbuai oleh keindahan itu sendiri...
Tentu tidaklah salah kita belajar mencintai keindahan,
karena Sang Pencipta keindahan justru mengajarkan kita
untuk mencintai keindahan. 'Innallaha jamilun yuhibbul
jamaala...' Namun kesalahan terjadi tatkala kita
mencintai keindahan melebihi cinta kita kepada Sang
Pemilik keindahan. Seharusnya justru keindahan itu
sendiri akan membawa kita lebih mencintai Sang Pemberi
keindahan.
Semoga apa-apa yg diberikan olehNYA yang tak berhingga
kepada kita dapat menambah rasa syukur kita yg
ternyata sangat berbilang terbatas ini. Dan semoga
kisah dibawah ini dapat memberikan nuansa lain didalam
mengembaraan jiwa kita untuk menggapai cintaNYA.
Dedi Haryadi Muslim
Program Studi Teknik Material
Departemen Teknik Mesin
Institut Teknologi Bandung
Indonesia

2 Comments:

Blogger Far Azmi said...

oh my! this post is here... haha im the one who gave dis to jaime...ahahahak

11/04/2006 8:14 PM  
Blogger Muh Ridho said...

Wah ini tulisan saya yg saya posting di milis flp bawahnya ada nama Dedi :)

11/02/2007 4:33 PM  

Post a Comment

<< Home